Kamis, 25 Oktober 2012

Hati - Hati Tentang Si Hati

Hati-Hati Tentang Si Hati


“Pokoknya sakiiiiiit hati ini, sakiiit banget deh!”, keluhan seorang sahabat tatkala menceritakan prihal pengkhianatan seseorang yang dipercayainya. Mimik muka penuh kekesalan ditambah nada suara yang menandai rasa jengkel.
Juga kelunya lidah seorang ibu, berurai air mata dan ragam tanya dalam nuraninya, “Kenapa anak hamba yang dibesarkan dalam pendidikan agama yang baik, tetapi melakukan perbuatan zina dan sering berdusta, Ya Allah?”, ibu mana pun juga yang merupakan muslimah sholihat, pastilah merasa hancur hatinya tatkala memetik kenyataan pahit melihat anaknya ‘kumpul kebo’ berlumur kehinaan dan belum juga bertaubat pada-NYA.
Lain lagi kalimat bijak dari Mas Fulan, seorang brother asal daerah Jawa Timur, ia berkata, “Dulu sih sakiit sekali rasanya, ingin melampiaskan dengan amarah atau bahkan membunuh… Tapi Alhamdulillah, saya masih bisa mengontrol diri. Hati ini berkata ‘tidak, jangan emosi’…. Maka sekarang saya lega… Alhamdulillah sudah ikhlas…”, senyumnya ceria. Subhanalloh, padahal Mas Fulan itu mengalami kepahitan suatu peristiwa hidup, pengalamannya ketika pulang ke rumah memergoki istri tercinta tengah berselingkuh, pasangan selingkuhan itu adalah saudara iparnya sendiri! Maka tatkala Mas Fulan menceraikan si istri, adik perempuan Mas Fulan juga menjanda karena bercerai dengan suaminya tersebut. Tamparan yang luar biasa bagi keluarga mereka. Sempat trauma, begitulah kata Mas Fulan, lima tahun lebih ia merasa ketakutan membuat rencana berumah tangga kembali. Butuh waktu introspeksi diri, perlu lebih banyak pertimbangan yang matang, karena ia ‘takut’ hatinya terluka lagi.
Dua tahun lalu, Mas Fulan ‘sembuh’, berjumpa dengan pilihan hatinya dan membangun rumah tangga yang baru dengan optimis, Allah ta’ala pasti melimpahkan obat luka terbaik buatnya. Keberkahan mengiringi, saat ini Mas Fulan telah menggendong jundi nan lama diimpikannya. Alhamdulillahirobbil ‘alamiin.
Memang si hati selalu jadi perbincangan sepanjang masa. Urusan hati berkaitan dengan cinta, benci, juga rindu dan sebagainya, dibahas tak pernah usai. Kedalaman hati seseorang tiada yang tau, kecuali Allah SWT. Dalam biografi dari Sufyan Ath-Thauree, Khalf ibn Tameem melaporkan bahwa ia mendengar Sufyan berkata: “Visi mata (apa-apa yang dipandang) seseorang bertujuan pada dunia fana, dan visi hati seseorang bertujuan untuk akhirat. Ketika seorang pria ‘melihat’ dengan matanya, ia sia-sia, (ia menilai sesuatu dari pandangan mata saja) tak bermanfaat. Adalah ketika ia melihat dengan hatinya, baik melihat seseorang yang disukainya maupun ‘melihat’ penilaian diri sendiri, ia memetik banyak manfaat.”
Kalau zaman sekolah dulu, sang ustadzku pernah berpesan seraya bercanda, “Ada tiga organ yang bicara…Wanita disebut cantik karena wajah dan penampilannya, si mata yang bicara. Wanita cantik karena cerdas, pandai dan rajin, itu otak atau akal pikiran yang berkata. Wanita cantik karena berakhlakul karimah, baik budinya, itu si hati berucap. Dan mata lebih cenderung memperturutkan nafsu, maka pertimbangkanlah kata hati, karena kebaikan budi pekerti lebih berharga.”Dan sebagaimana yang kita ketahui, kecintaan seseorang kepada Islam tentunya membuat selalu ingin memahami dan terus menggali ilmu-ilmuNya. Dengan berusaha makin memahami, maka akan terus berusaha mengamalkan rambu-rambuNya, dan wujud yang paling terlihat adalah akhlakul karimah, kepribadian hidup sehari-sehari. Itulah pancaran hati nan cantik.
Sufyan Ath-Thauree pun pernah mengatakan tentang ‘bukti kesabaran hati’. Tiga hal tanda engkau telah bersabar : Jangan bicarakan tentang musibah yang menimpamu, jangan diumbar prihal sakit dan lukamu, serta jangan memuji dirimu sendiri. Astaghfirrulloh, kebanyakan peristiwa keseharian diri ini masih susah untuk bersabar, sibuk ‘nyari tempat berkeluh kesah’, sulit menata hati padahal sudah sering mengingat akan si obat hati, sebagaimana firman Allah ta’ala, bermakna, “Tidaklah kalian ketahui bahwa hati hamba-hamba Allah SWT yang beriman itu dibahagiakan oleh Allah dengan banyak berdzikir kepada-Nya.” (QS. Al-Hadid [57] : 16)
Si hati jelita dengan kelurusan niat dan kesyukuran, tentunya menampakkan sikap dan prilaku rendah hati dan ketulusan seseorang dalam menjalani detik-detik hidupnya. Wajah pun sumringah bahagia. Sedangkan hati yang dengki, iri, hingga berjibunnya penyakit hati, maka sikap yang tampak adalah rakus, tamak, doyan mengadu-domba, menebar fitnah, mencari celah ‘kemudahan mencapai tujuan’ dengan jalan apapun, berkhianat serta kesulitan untuk tersenyum.
Sebagaimana wasiat baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “…Ketahuilah, bahwa setiap raja memilliki daerah terlarang. Ketahuilah, bahwa daerah terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”. (HR. Bukhari dan Muslim)
“Ada secuil catatan tentang si hati…
Bilangan tahun adalah seperti pohon, bulan adalah dahannya,
Hari-hari merupakan cabang-cabangnya, jam adalah daunnya,
Dan nafas ibarat buahnya
Siapa pun yang nafasnya digunakan untuk taat kepada Allah,
Maka buah pohon itu akan baik, lezat dan murni manisnya
Siapa pun yang nafasnya digunakan untuk mendurhakai Allah,
Tentu buahnya akan jahat, busuk dan jelek
Waktu panen adalah pada hari kiamat
Yang pada saat itu buah akan ditampilkan,
Apakah itu manis atau asam
Ketulusan dan Tauhid adalah pohon dalam hati
Cabang-cabangnya adalah perbuatan
Dan buahnya adalah kenikmatan hidup selama ini
Kehidupan duniawi dan kebahagiaan abadi di akhirat
Buah tauhid dan ketulusan dalam kehidupan dunia adalah sama
Allah limpahkan berkah kepada hamba –Nya nan ikhlas
Balasan kebaikan berlipat ganda
Kemusyrikan, berbohong, dan kemunafikan juga pohon dalam hati
Buahnya adalah selama hidup tak tentram
Diliputi rasa takut, tertekan, kesedihan, dan sesak dalam dada
Kegelapan hati, dan di akhirat menelan az-zaqqum jua siksaan permanen
Allah ta’ala menyebutkan dua pohon tersebut dalam ayat-ayat cinta-Nya Surah Ibrahim."
“Ya Allah, yang selalu membolak-balikkan hati, mantapkanlah hati kami dalam agama-Mu dan dalam ketaatan pada-Mu, amiin”. Wallahu a’lam bish-shawab.

Wanita adalah mutiara

Wanita Adalah Mutiara

Wanita Adalah Mutiara
Woman was made from the rib of man, She was not created from his head to top him, Not from his feet to be stepped upon, She was made from his side to be close to him, From beneath his arm to be protected by him, Near his heart to be loved by him.
Bagaimana perasaan seorang pria jika dikelilingi banyak wanita? Jika pertanyaan itu disodorkan kepada saya, maka ungkapan “bangga” nampaknya cukup mewakili perasaan saya. Saya senang setiap hari dikelilingi wanita cantik, shalihah pula. Dan tentu pada saat itu saya semakin merasa menjadi ‘pangeran’. Ups, jangan curiga dulu, karena wanita-wanita cantik nan shalihah yang saya maksud adalah istri dan dua anak saya yang keduanya ‘kebetulan’ wanita. Insya Allah.
Tidak hanya itu, sebelum saya menikah, saya juga lebih banyak disentuh oleh wanita, yakni ibu karena semenjak usia enam tahun saya memilih untuk ikut ibu saat ia bercerai dengan ayah. Sebuah naluri kedekatan anak terhadap ibunya yang tidak sekedar karena telah menghisap ratusan liter air susu ibunya, melainkan juga ikatan bathin yang tak bisa terpisahkan dari kehangatan yang senantiasa diberikan seorang ibu terhadap anaknya.
Karena itulah, dalam hidup saya tidak ingin berbuat sesuatu yang sekiranya dapat mengecewakan dan melukai seorang wanita. Namun sikap yang tepat dan bijak harus diberikan seorang pria mengingat wanita itu terbuat dari tulang rusuk yang bengkok, yang apabila terdapat kesalahan padanya, pria harus berhati-hati meluruskannya. Terlalu keras akan mematahkannya, dibiarkan juga salah karena akan tetap pada kebengkokannya. Meski demikian, tidak sedikit pria harus membiarkan wanita kecewa demi meluruskan kesalahan itu, toh setiap pria yang melakukan itu pun sangat yakin bahwa kekecewaan itu hanya sesaat kerena selanjutnya akan berbuah manis.
Wanita itu ibarat bunga, yang jika kasar dalam memperlakukannya akan merusak keindahannya, menodai kesempurnaannya sehingga menjadikannya layu tak berseri. Ia ibarat selembar sutra yang mudah robek oleh terpaan badai, terombang-ambing oleh hempasan angin dan basah kuyup meski oleh setitik air. Oleh karenanya, jangan biarkan hatinya robek terluka karena ucapan yang menyakitkan karena hatinya begitu lembut, jangan pula membiarkannya sendirian menantang hidup karena sesungguhnya ia hadir dari kesendirian dengan menawarkan setangkup ketenangan dan ketentraman. Sebaiknya tidak sekali-kali membuatnya menangis oleh sikap yang mengecewakan, karena biasanya tangis itu tetap membekas di hati meski airnya tak lagi membasahi kelopak matanya.
Wanita itu mutiara. Orang perlu menyelam jauh ke dasarnya untuk mendapatkan kecantikan sesungguhnya. Karenanya, melihat dengan tanpa membuka tabir hatinya niscaya hanya semu sesaat yang seringkali mampu mengelabui mata. Orang perlu berjuang menyusur ombak, menahan arus dan menantang semua bahayanya untuk bisa meraihnya. Dan tentu untuk itu, orang harus memiliki bekal yang cukup sehingga layak dan pantas mendapatkan mutiara indah itu.
Wanita itu separuh dari jiwa yang hilang. Maka orang harus mencarinya dengan seksama, memilihnya dengan teliti, melihat dengan hati-hati sebelum menjadikannya pasangan jiwa. Karena jika salah, ia tidak akan menjadi sepasang jiwa yang bisa menghasilkan bunga-bunga cinta, melainkan noktah merah menyemai pertikaian. Ia tak akan bisa menyamakan langkah, selalu bertolak pandang sehingga tak memberikan kenyamanan dan keserasian. Ia tak mungkin menjadi satu hati meski seluruh daya dikerahkan untuk melakukannya. Dan yang jelas ia tak bisa menjadi cermin diri disaat lengah atau larut.
Wanita memiliki kekuatan luar biasa yang tak pernah dipunyai lawan jenisnya dengan lebih baik. Yakni kekuatan cinta, empati dan kesetiaan. Dengan cintanya ia menguatkan langkah orang-orang yang bersamanya, empatinya membangkitkan mereka yang jatuh dan kesetiaannya tak lekang oleh waktu, tak lebur oleh perubahan.
Dan wanita adalah sumber kehidupan. Yang mempertaruhkan hidupnya untuk sebuah kehidupan baru, yang dari dadanya dialirkan air susu yang menghidupkan. Sehingga semua pengorbanannya itu layak menempatkannya pada kemuliaan surga, juga keagungan penghormatan. Tidak berlebihan pula jika Rasulullah menjadi seorang wanita (Fathimah) sebagai orang pertama yang kelak mendampinginya di surga.
Untung saya bukan penyanyi ngetop yang menjadikan wanita dan cintanya sebatas syair lagu demi meraup keuntungan. Sehingga yang tampak dimata hanyalah wanita sebatas bunga-bunga penghias yang bisa dicampakkan ketika tak lagi menyenangkan. Kebetulan saya juga bukan bintang sinetron yang kerap diagung-agungkan wanita. Karena kalau saya jadi mereka, tentu ‘kebanggaan’ saya dikelilingi wanita cantik bisa berbeda makna dengan kebanggaan saya sebagai seorang yang bukan siapa-siapa.
Bagusnya juga wanita-wanita yang mendekati dan mengelilingi saya bukanlah mereka yang rela diperlakukan tidak seperti bunga, bukan selayaknya mutiara dan tak selembut sutra. Bukan wanita yang mencampakkan dirinya sendiri dalam kubangan kehinaan berselimut kemewahan dan tuntutan zaman. Tidak seperti wanita yang rela diinjak-injak kehormatannya, tak menghiraukan jerit hatinya sendiri, atau bahkan pertentangan bathinnya. Juga bukan wanita yang membunuh nuraninya sendiri sehingga tak menjadikan mereka wanita yang pantas mendapatkan penghormatan, bahkan oleh buah hatinya sendiri.
Dan sudah pasti, selain tak ada wanita-wanita macam itu yang akan mendekati lelaki bukan siapa-siapa seperti saya ini, saya pun tentu tidak akan betah berlama-lama berdekatan dengan mereka, apalagi bangga. Semoga

Senin, 22 Oktober 2012

pemahaman

Parpol Islam Suram , Pelajaran Penting Untuk Kita !

Lingkaran Survey Indonesia (LSI) kembali buat gerah. LSI merilis survei mengenai kondisi terkini serta prediksi masa depan partai dan tokoh Islam di Indonesia. Hasilnya, popularitas partai dan tokoh Islam di kancah perpolitikan nasional kian suram. Menurut peneliti LSI Partai Islam hanya akan menjadi pelengkap tahun 2014. Penolakan segera muncul dari parpol yang dituding suram.
Seperti biasa, LSI memasukkan opini sekuler dan menyerang Islam dalam surveynya. Antara lain dengan mengatakan  salah satu penyebab suramnya Partai Islam adalah maraknya aksi kekerasan yang mengatasnamakan Islam  yang memunculkan kekhawatiran terhadap formalistik Islam. Kesimpulan yang terkesan dipaksakan, mengingat  tidak ada hubungan langsung antara kekerasan dan formalistik Islam.
Namun analisis yang lain dari LSI cukup menarik tentang menurutnya pamor Partai Islam patut kita perhatikan. Pertama tak ada isu “seksi” yang bisa dijual ke publik, pasca reformasi tidak ada isu keislaman yang menggugah simpati umat.  Faktor  Kedua, partai Islam gagal memperjuangkan nasib umat Islam.   Tampak  sisi kinerja misalnya nyaris tak bisa dibedakan partai mana yang memperjuangkan Islam dan mana yang tidak. Selain itu adanya keterlibatan kader partai Islam dalam sejumlah kasus korupsi turut mencuatkan kekecewaan publik.
Memang benar , saat ini umat Islam sangat sulit membedakan antara partai Islam dan tidak. Dari segi asas, beberapa partai yang disebut oleh LSI sebagai partai Islam, malah memposisikan partainya bukan sebagai partai Islam seperti PAN dan PKB. Demikian juga PKS memilih sifat partai yang lebih terbuka dibanding dengan tegas mengatakan partainya adalah partai berideologi Islam dan memperjuangkan syariah Islam.
Kalau indikasi partai Islam adalah menyuarakan syariah Islam, klaim partai Islam LSI juga patut kita pertanyakan. Mengingat, nyaris  tidak ada partai Islam yang berkecimpung dalam parlemen dengan terbuka, terus menerus dan konsisten menyuarakan penegakan syariah Islam. Padahal  seruan itulah yang akan membedakan partai Islam dengan partai sekuler.  Yang sering terjadi partai-partai tersebut justru lebih disibukkan mengopinikan ide-ide sekuler yang bertentangan dengan Islam seperti demokrasi, HAM atau pluralisme. Atau sibuk berusaha mengkompromikan ide-ide sekuler itu dengan Islam.
Dalam isu-isu langsung keumatan seperti Ahmadiyah, kristenisasi, perang melawan terorisme ala Amerika , pembangunan gereja illegal, partai yang diklaim parpol Islam tersebut justru lebih memilih sikap di zona aman. Meskipun ada perhatian tapi tampak tidak serius dan sungguh-sungguh.  Takut dituding tidak pluralis, intoleransi, atau puritan kalau membela isu-isu Islam.
Ditambah lagi, partai-partai yang diklaim partai Islam tersebut, tidak  begitu menonjol perjuangannya untuk membela kepentingan rakyat yang mayoritas adalah umat Islam. Posisi parpol yang  berkoalisi dengan pemerintah terbukti cukup menyendera dan memandulkan.
Tidak ada penentangan yang  terbuka dan konsisten terhadap kebijakan-kebijakan zolim yang mensengsarakan rakyat seperti kenaikan BBM dan privatisasi kesehatan dan pendidikan. Partai-parti  turut bertanggung jawab – sedikit atau banyak- dengan lahirnya UU yang pro pemilik modal dan anti rakyat seperti UU Migas, UU Kelistrikan, UU Penanaman Modal dan lainnya.
Semua ini seharusnya menjadi masukan berharga. Partai Islam, bukanlah sekedar kepentingan pragmatis dari elit-elit partai untuk meraih suara dan mempertahankan posisi kekuasaannya . Bukan pula persoalan laku atau tidak laku, sekedar menang atau kalah. Keberadaan partai Islam adalah tuntuan berdasarkan aqidah Islam dan kewajiban syariah Islam.  Karena itu butuh kesabaran meskipun belum menang, perjuangan harus tetap berlanjut tanpa menggadaikan ideologi.Logika pasar tidak boleh dianut partai Islam.
Tujuannya juga harus jelas yaitu untuk menerapkan seluruh syariah Islam dalam segala aspek kehidupan termasuk aspek bernegara. Langkah-langkah yang dilakukan haruslah sesuai syariah Islam. Partai Islam harus terlibat serius melakukan pembinaan umat untuk membangun kesadaran kewajiban menerapkan syariah Islam.  Kesadaran umat  inilah yang menjadi kunci keberpihakan rakyat  terhadap partai Islam. Bagaimana umat akan mendukung kalau umat tidak sadar ?
Meskipun bukan malaikat  -karenanya terkadang  berbuat salah-, kader-kader partai Islam haruslah berusaha keras terikat pada seluruh syariah Islam dalam aspek kehidupannya. Partai Islam harus bersikap tegas menghukum dan memecat anggotanya yang menyimpang dari syariah Islam.
Perjuangan menerapkan syariat Islam inilah yang akan menjadikan parpol Islam menjadi pro rakyat. Sebab menerapkan syariah Islam, disamping mendapatkan pahala dari Allah SWT (ini hal yang paling utama) , kepentingan rakyat akan terjamin. Dengan syariat Islam, negara akan menjamin kebutuhan pokok tiap individu rakyat berupa sandang , pangan dan papan, termasuk pendidikan dan kesehatan gratis.
Syariat Islam akan mencegah kekayaan alam yang merupakan milik rakyat dieksploitasi oleh para pemilik modal. Sebab barang tambang yang melimpah seperti minyak, batu bara, gas, emas , adalah milik rakyat (al milkiyah al amah) yang harus dikelola negara dengan baik untuk kepentingan rakyat. Disinilah letak penting Khilafah Islam, sebagai institusi negara yang akan menerapkan seluruh syariah Islam. Inilah yang seharusnya diperjuangkan partai Islam sehingga menjadi partai yang pro rakyat dan mendapat ridho Allah SWT.
Perlu kita sadari era Kapitalisme pasti akan berarkhir, dan saat ini sedang mengalami guncangan hebat. Era Khilafah akan segera terwujud, tinggal menunggu waktu dengan perjuangan yang sungguh-sungguh. Sayang kalau parpol Islam lagi-lagi akan ketinggalan kereta menyambut era ini. Selamat berubah dan berjuang ! (Farid Wadjdi)

Rabu, 17 Oktober 2012

BILA MENULIS UNTUK HARTA, UNTUK KAYA
Maka engkau akan berhenti menulis, saat tulisanmu tak lagi mampu berubah menjadi keping-keping emas, serpih-serpih berlian, juga lembar-lembar rupiah.

BILA MENULIS UNTUK TERKENAL
Maka engkau akan berhenti menulis saat tulisanmu, enggan dibaca orang, tak mampu melejitkan popularitas.

BILA MENULIS KARENA ALLAH, UNTUK PERJUANGAN
Maka engkau akan terus melaju. Menarikan jemari menata aksara. Kala nama telah dikenal semesta raya atau diri tak pernah dilirik dunia. Walau di tempat bertahta atau di dalam penjara. Engkau akan teus menulis. Karena menulis adalah perjuangan. Rehatnya, bukan di sini, bukan di dunia. Tapi di surga kelak. Insya Allah...

Rohis Hilang Tawuran Datang


Di tengah minimnya jam pelajaran agama di kelas, kehadiran ROHIS sebagai wadah kegiatan ekstrakurikuler sangatlah urgen. Rohis dapat meningkatkan sikap religius siswa. Melalui rohis siswa memiliki kesempatan yang cukup besar untuk mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan. Sebut saja kegiatan MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa). Dalam kegiatan satu malam ini para siswa bisa mendapatkan suasana religius yang jarang didapati di rumah. Sepanjang malam seluruh siswa berkesempatan untuk bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bisa berupa sholat Isya berjamaah, sholat tahajjud, dan tadarus Al-Qur’an. Kegiatan ini secara langsung dapat membantu pembiasaan memanfaatkan waktu malam untuk ibadah. Selain itu di dalam wadah rohis para siswa dapat meningkatkan pemahaman keislaman melalui kajian hadits, fiqih, aqidah, akhlak, dan tarikh.  Bukan hanya itu, kajian khusus untuk membahas problematika remaja dengan cara pandang Islam menjadikan para siswa memiliki kepribadian yang Islami (syakhshiyah Islamiyah). Mereka menjadi siswa yang memahami halal dan haram, terikat dengan aturan agama dan taat beribadah. Semua itu akan menjadi pondasi awal bagi mereka jika kelak menjadi pemimpin ataupun yang dipimpin di dalam masyarakat. Kehadiran rohis setidaknya menjadi solusi mengeliminir tawuran antar pelajar yang kini marak terjadi.
Menurut data KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) angka tawuran pelajar terus meningkat dari tahun ke tahun. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. http://www.kpai.go.id. Sementara itu Ketua Umum Komnas Anak Arist Merdeka Sirait menyatakan sepanjang enam bulan pertama tahun 2012 lembaganya mencatat ada 139 kasus tawuran pelajar, lebih banyak dibanding periode sama tahun lalu yang jumlahnya 128 kasus. (tribunews.com)
Terkini, tawuran antar pelajar telah menelan 2 korban jiwa, Deni Januar (17) pelajar SMK Yayasan karya 66 (Yake) dan Alawy siswa SMAN 6. Mensikapi maraknya tawuran antar pelajar para pakar pendidikan selalu memasukan faktor lemahnya pendidikan agama sebagai salahsatu penyebab siswa tawuran disamping faktor ekonomi, lemahnya perhatian orang tua dan buruknya lingkungan. Disinilah relevansi pentingnya kehadiran rohis di sekolah.
Namun sayang, rohis yang menjadi salah satu wadah pembentukan karakter siswa yang berakhlak ini, kini dituding sebagai sarang teroris. Basis rekrutmen generasi muda teroris. Dalam Program dialog Metro TV, narasumber Guru Besar Universitas Islam Negeri Jakarta Bambang Pranowo menyampaikan hasil ‘penelitiannya’. Menurutnya ada lima pola rekrutmen teroris muda. Salah satunya melalui ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah. Pada tayangan grafik versi Pranowo, Metro TV membubuhkan judul yang sangat provokatif “Awas, generasi Baru teroris! sungguh tuduhan yang sangat keji!
Apa yang disampaikan Pranowo  dan Metro TV semakin menguatkan keyakinan banyak orang bahwa war on terrorism is war against Islam.
Ini adalah stigma. Stigma yang dimaksudkan untuk membunuh karakter rohis, aktivisnya dan ajaran Islam. Stigma ini adalah terror yang menakut-nakuti agar para siswa menjauh dari rohis. Terror bagi orang tua siswa agar tidak mengizinkan putra-putrinya aktif bersama rohis. Dan teror terhadap institusi sekolah agar menutup kegiatan rohis, jika tidak ingin dicap melindungi base camp pembinaan teroris.
Stigma seperti ini persis sama dengan yang dilakukan para pemuka Mekkah saat menghadang laju dakwah Rasulullah SAW. Mereka menyebut Muhammad SAW sebagai orang gila, dukun atau tukang sihir. Dengan cara begitu mereka berharap manusia menjauhi Nabi SAW dan mengabaikan dakwahnya. Para pengikut Muhammad pun mereka katakan sebagai orang-orang bodoh yang senang membuat kerusakan (QS Al Baqarah [2]: 12-13)
Namun stigma itu tidak menyurutkan langkah dakwah Rasulullah SAW bersama para sahabat ra. Keimanan mereka kepada Islam bertambah kuat. Mereka tidak gentar sedikitpun meski mengalami penyiksaan dan isolasi sampai Allah memenangkan dan memuliakan mereka dengan Islam.
Demikianlah juga seharusnya dengan rohis, tetap maju mengembangkan program-programnya, tidak gentar oleh terror hingga Allah menampakkan makar jahat pihak-pihak yang memusuhi Islam. Umat pun akan bangkit membela Islam.
Sekolah perlu memberikan ruang gerak yang luas kepada Rohis agar dapat merealisasikan programnya dengan memberikan dukungan fasilitas, dana, dan waktu. Terakhir, dukungan dari orang tua kepada putra-putrinya untuk mengembangkan kemampuan berorganisasi dengan memberikan kepercayaan bahwa berorganisasi di Rohis akan membentuk sikap yang baik dan bermanfaat. Karena jika teror ini berhasil menciutkan nyali anak-anak rohis, para orang tua dan pihak sekolah maka rohis akan bubar. Tidak ada lagi wadah kreativitas siswa yang dapat memupuk dan menguatkan keimanan para pelajar di sekolah. Meng ‘iyakan’ pendapat para pakar pendidikan, tanpa pemahaman agama bukan mustahil tawuran antar pelajar akan terus meningkat. Rohis hilang tawuran datang. Wallahu ‘Alam bi Ash shawab.[]